Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
Nasional

Makna Dan Filosofis Tradisi Lebaran Ketupat Hari Ke-8 Di Bulan Syawal

207
×

Makna Dan Filosofis Tradisi Lebaran Ketupat Hari Ke-8 Di Bulan Syawal

Sebarkan artikel ini
Foto : Istimewa/iniberita.com
banner 500x150

PASURUAN, iniberita.com -Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dirayakan pada hari ke-8 bulan Syawal, atau tepatnya satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri, tradisi ini bukan sekadar ajang makan-makan, tetapi juga sarat akan filosofi, budaya, dan nilai-nilai spiritual Islam.

Tradisi Lebaran Ketupat dikenal juga dengan istilah “Syawalan”, yang menandai berakhirnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan. Dalam perayaan ini, ketupat menjadi sajian utama, disajikan bersama opor ayam, sambal goreng ati, hingga telur balado, menciptakan suasana kehangatan dan kebersamaan yang khas.

Asal Usul Lebaran Ketupat

Dikutip dari laman NU Online, tradisi ini dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo, dalam rangka menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya. Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi kupatan atau membuat dan membagikan ketupat sebagai simbol syukur dan permohonan maaf kepada sesama.

Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan bahwa Wali Songo memanfaatkan kearifan lokal seperti selametan atau kenduri untuk mengenalkan nilai-nilai keislaman, seperti berbagi rezeki, mempererat silaturahmi, dan mengakui kesalahan.

Makna Filosofis di Balik Ketupat

Kata “kupat” sendiri dalam bahasa Jawa merupakan singkatan dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan), yakni lebaran, puasa Syawal, halal bihalal, dan ziarah. Ketupat tidak hanya mengenyangkan secara fisik, tetapi juga memberi “asupan” makna bagi rohani dan kebudayaan masyarakat.

Beberapa makna ketupat yang menarik untuk diketahui:

Bungkus janur kuning: Melambangkan cahaya dan penolak bala. Janur berasal dari kata “ja” (jati) dan “nur” (cahaya).

Anyaman rumit: Menunjukkan kompleksitas kesalahan manusia.

Bentuk segi empat: Simbol “kiblat papat lima pancer” empat penjuru arah dan satu pusat, yang menunjukkan bahwa ke mana pun manusia pergi, akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Warna putih beras: Lambang kesucian dan kebersihan hati setelah mohon ampun. Simbol Kesederhanaan dan Persaudaraan

Lebaran Ketupat bukan hanya perayaan individual, melainkan momentum memperkuat ikatan sosial. Dalam budaya masyarakat Jawa dan Lombok, tradisi ini menjadi ajang berbagi makanan, saling mengunjungi, dan menggelar syukuran bersama di kampung halaman. Beberapa daerah bahkan menyelenggarakan festival ketupat atau acara adat seperti kirab budaya dan selametan massal.

Salah satu tradisi unik di masa lalu adalah menggantung ketupat matang di atas pintu rumah bersama pisang sebagai penolak bala. Meski kini sudah jarang dijumpai, kepercayaan itu masih hidup dalam nilai-nilai kebaikan yang terkandung.

Lebaran Ketupat menjadi pengingat bahwa Islam di Nusantara berkembang dengan damai dan menyatu dengan budaya lokal. Tradisi ini membawa pesan mendalam: mengakui kesalahan, memohon maaf, memperkuat hubungan sosial, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Lebaran Ketupat bukan hanya tentang menikmati opor ayam dan ketupat. Lebih dari itu, ia adalah perayaan kesederhanaan, simbol persaudaraan, dan warisan budaya Islam Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan. (Adr/Red).

banner 325x300
Example 120x600
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *