Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
Internasional

“Global Financial Crisis Dekade 2020-An” Bisa Saja Mengulang Sejarah Seperti Awal Abad 20 Lalu, Resesi Dunia Akhirnya Memicu Munculnya Perang Dunia Ketiga

50
×

“Global Financial Crisis Dekade 2020-An” Bisa Saja Mengulang Sejarah Seperti Awal Abad 20 Lalu, Resesi Dunia Akhirnya Memicu Munculnya Perang Dunia Ketiga

Sebarkan artikel ini
Foto : Istimewa/iniberita.com
banner 500x150

PASURUAN, iniberita.com  -Sejarah perang mengajarkan kita bahwa ada beda alasan dan motivasi untuk terjun dalam peperangan antara AS dan RUSIA:

Rusia itu bila yakin ekonominya sedang kuat-kuatnya, baru dia bikin perang di negeri-negeri orang lain di muka bumi ini.

Tapi sebaliknya untuk AS, bila ekonominya sedang lemah-lemahnya atau mengalami resesi berat depressi ekonomi, maka dia pasti bikin perang baru di negeri-negeri orang lain, tapi yg dipilih harus negeri yang letaknya jauh dari halaman rumahnya

Perang Ukrania vs Rusia saat ini sudah jelas telah memporak-porandakan perekonomian Uni-Eropa dan AS. Negara mereka tiba-tiba saja jatuh dalam situasi inflasi tertinggi selama 40 tahun terakhir, dan ujung-ujungnya memicu resesi ekonomi di dua benua itu.

Bahkan kini dunia menyaksikan terjadinya konflik baru di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Israel dan negeri-negeri disekitarnya (Palestina, Siria, Yaman, Lebanon dsn Iran). Bila eskalasinya semakin luas maka bukan tidak mungkin penggunaan senjata pemusnah massal (seperti nuklir) akan terjadi di wilayah itu. Dan itu artinya awal perang dunia ke 3 telah dimulai.

Resesi ekonomi yang berat yang kini sedang menimpa AS dan Uni-Eropa itulah, yang banyak dikhawatirkan orang di seluruh dunia, bahwa kondisinya ini akan membuat AS dan Inggris akan membawa dunia kita saat ini untuk segera memasuki kancah peperangan global baru.

Perang sudah menjadi pakem bagi elit di negara itu dan bagi para elit kapitalistnya di negara ini. Mereka meyakini bahwa perekonomian mereka bila harus bangkit dari krisis resesi itu, yaa solusinya bikin perang baru di negeri-negeri lain yang lebih lemah dari negeri mereka.

Pikiran semacam itu kemudian diperkuat dengan adanya fenomena yang disebut sebagai military industrial complex. Yaitu kolaborasi antara politisi, jendral, dan industriawan pemilik pabrik senjata untuk menciptakan peperangan agar industri militer negeri itu bisa bangkit sehingga bisa menggerakkan roda perekonomian dalam negerinya.

Dan hal itu sudah dipraktekkan mereka sejak perang dunia pertama di awal abad 20 lalu. Perang dunia I dan II, perang Korea, perang Vietnam, perang Teluk I dan II hingga peperangan di Syria dan Afghanistan, tak terlepas dari kepentingan ekonomi dan bisnis seperti itulah.

Saat ini malahan militer AS dan Eropa sedang asik terlibat peperangan melawan Rusia di Ukrania. Ribuan senjata mengalir dari gudang-gudang senjata militer di AS dan seluruh negara NATO di Eropa ke Ukraina (sehingga ada alasan Pemerintah di negeri itu mengajukan anggaran militer baru yang lebih besar lagi untuk alasan mengisi gudang-gudang persenjataan yang kini kosong karena di export ke Ukraina).

Itu belum termasuk duit utangan miliaran dollar yang mengalir ke Ukraina. Negara kecil ini tidak sadar kalau sebenarnya hanya dijadikan mereka sebagai negara proxy saja dalam perang melawan Rusia itu.

China pun kini “dipaksa” atau “terpaksa ?” oleh kekuatan Barat untuk masuk dalam “skenario perang” yang sengaja dibuat mereka. Ekonomi China yang saat ini sedang terpuruk dalam akibat resesi, dampak covid-19, dan perang dagang  “trade war” yang sengaja dirancang AS dan sekutunya, serta keterlibatan China dalam konflik terbuka antara Rusia dan Ukrania yang didukung NATO (baca: militer AS dan Inggris).

Tapi perang kali ini lebih canggih daripada 2 perang dunia sebelumnya, yang mereka sebut sebagai perang hibrid “hybrid war” yaitu perang kombinasi dari perang militer “combat war”, perang dagang (‘trade war’, perang keuangan internasional “international financial war), dan perang inter net (cyber war), plus perang propaganda di sosmed (socmed war).

Sekarang coba lihat grafik dibawah ini yang memperlihatkan bagaimana GDP negara AS itu dari masa ke masa. Di grafik itu terlihat bahwa ekonomi AS pasti sedang meroket di saat pecah perang yang sengaja mereka buat sebelumnya.

Peperangan dengan negara lain itu juga menyebabkan Utang Negara otomatis meningkat. Dan Utang Negara (obligasi perang) inilah yang memberikan darah segar untuk industri keuangan mereka selanjutnya.

Bangkitnya industri keuangan swasta itu, akan mendorong investasi besar-besaran di negara mereka, baik selama perang apalagi setelah usai perang karena dibutuhkan banyak kredit Bank untuk rehabilitasi infrastruktur yang hancur lebur selama perang berlangsung sebelumnya.

Selanjutnya ekonomi mereka akan bertumbuh positip, pengangguran berkurang, dollar menguat di dunia, dan inflasi terkendali. Jadi, perang ternyata bisa menjadi “berkah” bagi negara-negara seperti AS dan Inggris atau negara Barat umumnya, terutama bagi industri militer dan industri keuangan mereka.

Tapi tetap ada satu syarat yang harus dilakukan militer mereka, yaitu peperangan di suatu negeri yang mereka ciptakan sebelumnya untuk kepentingan ekonomi itu, tidak boleh terlalu lama. Maksimal sekitar 5 tahunan saja, lebih dari itu, yang diperoleh justru kerugian (akibat manfaat atau “benefit” akibat perang, akan lebih kecil daripada kerugian ( cost) yang harus ditanggung.

Itulah sebabnya periode waktu di perang Dunia I dan II, perang Korea, perang di Panama, perang di Mogadishu Somalia, perang Teluk I dan II, mereka dibikin singkat saja, tak boleh melebihi 5 tahun saja.

Sebab kalau perang itu kelamaan seperti perang di Vietnam dulu, atau terakhir itu waktu perang di Afghanistan yang sampai menghabiskan waktu hingga 20 tahun, justru bisa merusak ekonomi negara (dan itu dulu pernah dialami oleh Uni-Sovyet hingga negara itu bubar).

Paman Sam dan Kemungkinan Terjadinya WW-3 di Masa Dekat ini

Wabah covid-19 itu, apa sekedar kasus pademik penyakit semata? Sebab usai covid-19 ini, masih ada jenis virus lainnya yang juga mematikan seperti halnya virus covid itu, dan bahkan kabarnya hingga 2025. Akibatnya bisa diduga bahwa Dunia akan segera mengalami krisis ekonomi terdalam (disebut Depressi ekonomi) di tahun 2023 ini hingga satu dekade ke depan (2030).

Dan saat itu mulai terjadi, kata Profesor ekonomi asal AS yang pernah meramalkan terjadinya krisis finansial tahun 2008 lalu dengan tepat, Nouril Rubini, akan melanda AS dan dunia dalam dekade 2020-an sekarang. Saat itu negara-negara pemilik nuklir sudah mulai kehabisan duit, pangan, dan harta shg niat mereka bikin perang baru tak akan terelakkan lagi.

Asal tahu saja bila mempelajari sejarah geo-politik AS, bahwa negara ini bila mulai kepepet ekonominya akibat resesi/depressi, maka jalan perang yg sengaja diciptakannya di wilayah lain yg jauh dari negerinya, adalah solusi terbaik untuk meningkatkan kembali pertumbuhan ekonomi dalam negerinya. Dan itu sudah jadi pakem tetap dalam sejarah politik ekonomi AS sejak perang dunia II yl.

Sejarah Dunia awal abad 20  pun hampir mirip dengan keadaan sekarang ini. Di awali pademik flu Spanyol  dilanjut dengan Perang Dunia 1 lalu muncul Depressi ekonomi Dunia tahun 1929-1938  dan diakhir masa depressi ekonomi itu terjadilah Perang Dunia II yang dimulai tahun 1939. Sejarah sepertinya akan berulang kembali, tapi kali ini lebih teruk!

Bagi elit negara AS, industri militer untuk mendukung perangnya di berbagai wilayah di dunia selama ini berhasil memicu pertumbuhan ekonomi AS dengan cepat, mengatasi pengangguran, dan menghidupkan semua UMKM dan industri serta sistem keuangan/pasar sahamnya.

Maka di saat ekonomi mereka sedang terpuruk dalam spt saat ini, yg dicemaskan itu dari elit AS itu adalah munculnya kembali semangat “the industrial military complex” dari jenderal-jenderal gila perang di Pentagon, politisi di Gedung Putih dan kalangan bisnis atau industriawan AS, yang akan bersepakat untuk memicu perang dunia baru demi membangkitkan kembali mesin ekonomi dalam negeri mereka. Kemungkinan besar perang berikutnya adalah di wilayah LCT atau di laut yg ada sebelah utara kep. Natuna Indonesia di masa dekat ini. Tapi bisa pula peperangan akan dimulai dari laut Taiwan yaitu saat China memutuskan merebut Taiwan. Seorang jenderal asal AS bahkan memprediksi bahwa serbuan China ke Taiwan itu terjadi paling lambat tahun 2025.

Ada alasan kuat bahwa elit China pun tertarik untuk bikin perang baru agar masalah ekonomi dan dalam negerinya bisa teratasi?

Dan yg patut pula dipahami, elit pemimpin PKC China pun tahu teori itu bahwa perang bisa membuat ekonomi yang terpuruk akan bangkit kembali. Lalu bagaimana bila Xie Ping pun ketularan cara berfikir elit AS pula untuk hal yang satu ini? Yaa, Xie Ping tentunya akan memerintahkan rakyatnya untuk siap-disp perang melawan AS dan sekutunya. Asal tahu saja saat ini perekonomian China sedang terpuruk sekali.

Pertumbuhan ekonomi China hari ini tumbuh tak sampai 3% (bahkan seorang peneliti dari Univ.Chicago, Professor Louis Martinez dengan menggunakan data Sattelite di malam hari, memprediksi bahwa selama ini pertumbuhan ekonomi China itu maksimal 60% saja dari data pertumbuhan ekonomi yang diumumkan Pemerintah China).

China saat ini juga sedang pusing para elitnya terkait perekonomian negatanya yang sedang terpuruk. Dan ada ancaman pemberontakan dari dalam negeri akibat desakan penduduk usia muda dari generasi Y dan Z (yg meliputi 70% penduduk China saat ini) yang sudah terbiasa hidup konsumtif dan hedon dalam 3 dekade ini di negeri tirai bambu, tiba-tiba hidup mereka jatuh miskin kembali seperti zaman bapak dan kakeknya dulu. Pemerintah China dan PKC ada kemungkinan besar di demo rakyatnya sendiri akibat pengangguran dan semakin sulitnya kehidupan ekonomi mereka.

Perang dagang dengan AS dan Eropa telah menyebabkan China rugi besar, antara lain hilangnya surplus perdagangannya dengan AS senilai US$ 400-500 miliar setiap tahunnya. Belum lagi akibat kebijakan _”lock down”_ selama wabah covid-19, yang bikin perekonomisn China semakin terpuruk. Maka dengan semua alasan diatas, sangat mungkin Presiden Xie Ping dan elit PKC “nekad” untuk bikin perang dengan Taiwan, negara Asia Tenggara atau dengan AS dan sekutunya.

Begitu pula dengan Presiden Rusia, Putin, sangat mungkin bila dirinya dan negaranya terdesak secara ekonomi, keuangan dan militer akibat perang di Ukrania itu, bahwa dia akan melancarkan skala perang yang jauh lebih luas lagi dengan menyerbu NATO (Eropa Barat dan Timur). (Adr/Red).

banner 325x300
Example 120x600
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *