JAKARTA, Yang Menarik Di Kupas, Kenapa Tokoh Agus Flores, Bisa Memegang Arca Kunto Bimo, dan Bisanya Jenggot Jadi Putih, apakah ini diramalkan Ki Jokoboyo , Seorang Pemuda Ganteng, Gagah Berani, turunan Mataram Kuno akan hadir reingkarnasi kembali, datang ketanah ulayatnya di Magelang.
Sebelumnya , 5 tahun kemarin Sosok Agus Flores, Diibaratkan Tokoh Antagosis disegani Para Penambang Magelang.
Yang lebih aneh, Kedatangan Agus Flores ke Borobudur, tanpa penghalang, didampingi Pengurus Borobudur, Gratis lagi, padahal tempat tersebut sangat Birokrasi.
Bahkan masyarakat menyebut karena sudah Trah Nenek Moyangnya dibekas tanah Mataram Kuno, jadinya kedatangan dirinya Bah Seorang Baginda Raja datang kembali ke Kerajaannya.
Kalau dibilang cara Bertapanya agak aneh, cuma jalan diborobudur , pegang gambar gambar lukisan Candi, sudah tau menafsirkan Kehidupan Sejarah dulunya seperti apa,?
Uniknya lagi Pegang Arca Kunto Bimo, hanya dimasukan sekali tangannya, bertemu Tangan Agus Flores dan Tangan Patung Kunto Bimo.
Disinggung Doa Apa? Bisa pegang Tangan Kunto Bimo, Jawabannya ” Ada Deh, Saya Bawa Guyon Aja Leluhur disini, kan mereka Kangen sama aku, ” ujarnya Nyeloteh sambil tersenyum.
Selain itu, kalau manusia normal, naik turun Borobudur Tersebut Pasti Capek, Agus sepertinya tidak ada capeknya, sepertinya Borobudur seperti rumahnya sendiri.
Memang sosok Agus Flores ini paling aneh, contohnya pada saat Ketanah Suci Madina dan Mekah Almuqoromah, Selalu Lolos Cium Hajar Aswat dan Makan Nabi Muhamad SAW.
Hidupnya di Magelang Di Borobudur, ngak pernah lapar, apa yang diminta pasti masyarakat suguhi, dan masyarakat Tentram didekatnya, karena lebih banyak orangnya Guyon.
Bukan Masyarakat saja berteman dengan dirinya, baik Preman, mantan Preman Berteman dengan dirinya, Semua lini bisa dirangkulnya.
Saat Dikonfirmasi Media Sabtu (7/3) Dengan Santai Agus Flores Dengan Santainya mengatakan dirinya, hanya pingin Bertapa di Borobudur Sambil Tersenyum.
Diapun diingatkan Leluhurnya yang hidup diabat ke 8, mengatakan Tanah Magelang merupakan Tanah Mataram Kuno.
Dimana di Abad ke-8–10 M adalah kerajaan Mataram Kuno Penganut Agamanya Hindu-Buddha, didirikan oleh Raja Sanjaya (Dinasti Sanjaya, Hindu) dan berkembang pesat bersama Dinasti Syailendra (Buddha).
Wartawan bertanya, dimana Istana Mataram Kuno, dijawab Mas Agus dibawah Candi Borobudur itu, dengan santainya.
” Mau Saya Ceritakan Ngak, ? Bagaimana Sejarah Mataram Kuno, tapi kalian siapin Kopi dan Rokok saya , baru saya ceritakan, ?” ujarnya dengan Guyon.
Tanpa Kopi dan Rokok, Mas Agus Ceritakan Juga, Dulunya Yang Dirikan Raja Sanjaya.
” Raja Sanjaya ini seperti Manusia setengah Dewa tidak Tau Asal usulnya , entah Dari Kerajaan Kutai, Kerajaan Taruma Negara atau Sriwijaya,” ujar Raden Mas MH Agus Rugiarto SH.
Agus Menceritakan Raja Sanjaya dan Raja Balaputra Dewa itu Saudara, Selalu Bertengkar antara Tom And Jerry, Makanya Ayah mereka Memisahkan Satu Di Barat dan Satu Ditimur. Dibarat Balaputra Dewa Mendirikan Kerajaan Sriwijaya dan Ditimur Raja Sanjaya Mendirikan Kerajaan Mataram Kuno.
Lanjut Agus, ditahun 732 Masehi, Didirikan Kerajaan Mataram oleh Raja Sanjaya sesuai Prasasti Canggal, Di Magelang.
Ternyata Dua Wangsa ini, Wangsa Sanjana dan Wangsa Salendra, saling berselisih, nanti damai saat disatukan kembali melalui perkawinan politik antara Rakai Pikatan (Sanjaya) dan Pramodhawardhani (Syailendra).
Dan Nanti ditahun 898-910 Baru puncak kejayaan. Dengan Raja rajanya :
1. Raja Sanjaya (717-760)
2. Rakai Panangkaran/Dyah Pancapana (760-775)
Rakai 3. Panunggalan/Dharanindra/Dharmatungga(775-800), 4 Rakai Warak/Samaragrawira/Samaratungga (812-833), 5. Rakai Garung (832), 6. Pramodhawardhani (833-856), 7
Rakai Pikatan/Empu Manuku (838-855), 8
Rakai Kayuwangi/Dyah Lokapala (855-885), 9. Rakai Panumwangan/Dyah Dewendra (885-887), 10. Rakai Gurunwangi/Dyah Badra/Dyah Saladu (887), 11. Rakai Watuhumalang/Empu Teguh (894-898), 12.
Rakai Watukura/Dyah Balitung (898/910), 13.
Rakai Hino/Empu Daksa (910-919), 14.
Rakai Layang/Dyah Tulodong (919-921), 15.
Rakai Sumba/Dyah Wawa (924/928), 16.
Mpu Sindok (928-929), 17.
Empu Sindok (929-947), 18.
Isanatunggawijaya (947-9xx), 19.
Makutawang Sawardhana (9xx-985), 20
Dharmawangsa (985-1007).
Perlu Diklarifikasi juga, zaman itu, tidak ada Istilah Jawa Barat, Tengah dan Timur, yang ada batas wilayah Kerjaan.
Lantas Runtuhnya Mataram Kuno, saat Kerajaan Sriwijaya Menyerang, dan Raja Terakhir Mataram Kuno Raja Darmawansa, mengikuti Anak Mantunya Raja Airlanga di Kerajaan Kahuripan.
Episode kedua, kisah cinta Putri Raja Darmawangsa dan Raja Airlangga..

















